Pasar Burung Jatinegara Kebun Binatang Mini di Jakarta
Sobat Elka, setelah satu edisi tak bersua, kali ini Sahabat Alam ingin ngajak Sobat Elka jalan-jalan ke Pasar, tapi bukan mau belanja atau nawarin barang-barang belanjaan lho. Hmm..Sahabat Alam mau membahas sejarah atau asal – usul dua pasar yang mungkin sobat Elka kenali. Ya, Pasar Mester dan Pasar Burung Jatinegara.
Hayoo, siapa yang pernah jalan – jalan atau mungkin sekedar nemenin Ibu pergi ke pasar Mester ? Pasar Mester atau nama lainnya pasar Jatinegara merupakan salah satu aset penting PD Pasar Jaya, perusahan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sob tahu, asal – usul nama pasar Mester? Ni, Elka ceritain ya. Dulu, wilayah Jatinegara dikenal dengan sebutan Master Cornelis. Nama Master Cornelis sendiri diambil dari nama seorang pria kaya asal Pulau Lontor, Banda, Maluku yang bermukim di Batavia sejak tahun 1621, Cornelis Senen.
Di Batavia, dulu namanya belum Jakarta Sob, Cornelis menjadi guru agama Kristen. Dia membuka sekolah dan memimpin ibadah agama Kristen serta menyampaikan khotbah dalam Bahasa Melayu dan Portugis. Jabatannya sebagai guru itulah yang membuatnya mendapat gelar ‘Meester’ atau 'tuan guru'. Karena gelar ini akhirnya wilayah Jatinegara disebut Mester. Sampai sekarang Sobat Elka masih bisa lihat kok namanya di Plang pintu masuk pasar Jatinegara. DI Plang yang itu tertulis, “Pasar Mester.”
Wilayah Master Cornelis kemudian berubah menjadi Jatinegara sejak masa penjajahan Jepang, Sob. Ada yang bilang kalau nama Jatinegara dipilih karena dulu wilayah tersebut banyak tumbuh pohon Jati. Ada juga yang berpendapat kalau nama Jatinegara berasal dari kata ‘Negara Sejati’ yang pernah dipopulerkan Pangeran Jayakarta. Dari namanya saja sudah bersejarah ya Sob. Tetapi memang tidak berhenti di asal-muasal namanya saja. Di wilayah Jatinegara memang banyak berdiri bangunan – bangunan kuno yang mungkin punya nilai sejarah. Coba deh kalau Sob lagi lewat Jatinegara, perhatikan bangunannya, kebanyakan bangunan tersebut sudah tua dimakan waktu. Contohnya saja seperti Stasiun Kereta Api Jatinegara, Gereja GPIB Koinonia, bagunan bekas markas Kodim 0505, Pasar Lama Jatinegara, rumah langgam Cina, kelenteng, dan gedung SMP 14 Jatinegara (di samping Jatinegara Plasa) atau mungkin toko – toko sepanjang jalannya.
Tidak jauh dari pasar Mester, tepatnya di seberang agak ke sebelah kanan ada pasar Burung Jatinegara. Di pasar Burung Jatinegara, Elka sempat sedikit berbincang – bincang dengan mantan Ketua RW setempat. Namanya Pak Rahiman Hanafi. Pak Rahiman ini sudah tinggal di wilayah Jatinegara sejak tahun 1976. Wuih..lama juga ya Sob. Beliau bilang, pasar Burung ini sudah ada pada tahun 1967. Seperti namanya, pasar Burung, dulunya memang menjual burung. “Dulu burung dara/merpati, burung ocehan dan makanannya aja, ke sini-nya, tahun ‘90-an udah macem – macem, ada percetakan segala,” tambah Pak Rahiman.
Kalau sekarang sih Sob, ngga hanya burung, dari kelinci, kucing, sampai undur – undur aja dijual di sini. Hewan – hewan yang menyeramkan juga ada seperti kelelawar, burung hantu, ular. Iguana, kura – kura..pokoknya banyak deh Sob, capek juga kalo diabsen satu – satu di sini. Meskipun jenis hewan yang dijual semakin beragam, nama pasar ini tidak berubah.
Sekalipun hewan yang djual sudah beragam, penjual burung dara dan buruh kicauan masih mendominasi, baru setelah itu penjual kelinci. Kelinci – kelinci di pasar ini memang menarik perhatian. Contohnya saja kelinci di kios milik Pak Sabar. Di pasar ini Pak Sabar menjual beragam jenis kelinci mulai dari jenis lokal, anggora, rex, loop, dutch dan flemish giant. Kata Pak Sabar diantara jenis kelinci, yang paling banyak dicari adalah kelinci lokal yang kecil. Kelinci lokal biasanya dibeli secara grosir untuk dipelihara, diternakan lagi, diolah sebagai makanan atau sebagai hewan buas seperti ular.
“Kalau dibeli satuan, jenis Loop yang lagi ‘kenceng’,” kata Pak Sabar. Kebanyakan pembeli di sini membeli secara grosir dibandingkan ‘diketeng’. “Biasanya yang diketeng untuk dipelihara, misalnya kelinci impor,” tambahnya.
Di kios Pak Sabar ini, kelinci jenis anggora inggris yang mahal. Tapi jangan khawatir Sob, bisa nego. He.
Selain hewan, pasar ini juga menjual pakan hewan dan kandang hewan. Terlihat di sisi sebelah kiri berjejer kios kandang hewan dengan ukuran yang beragam. Semakin ke dalam, jenis binatangnya semakin sedikit, hanya ditemukan penjual burung dan rumah penduduk setempat. Jika sobat elka berjalan menyusuri gang pasar burung ini, bisa sampai ke daerah Pramuka lho.
Sejak dini hari, Pasar burung Jatinegara sudah beroperasi. “Kalau malam itu, jam 1 atau jam 2 barang – barangnya dateng, jam 3 paginya sudah banyak yang dagang di depan sana, Ikan – ikan,” papar Pak Rahiman.
Hewan – hewan yang dijual di pasar ini memang dipasok dari beberapa tempat. Pak sabar misalnya, kelinci –kelinci yan dijualnya tidak ia ternakkan sendiri tapi didatangkan dari Lembang. “Kalau hewan yang langka biasanya dari orang yang bawa dari mana gitu,” tambah Pak Rahiman. Di hari sabtu dan minggu, pasar burung akan lebih ramai dari biasanya.
Para pedagang di pasar burung ini, kata Pak Rahiman, memang bukan penduduk asli. Mereka hanya berdagang di pasar ini. Pak Sabar sendiri tinggal di daerah Pisangan. Ngga heran ketika ditanya tentang asal – mula pasar ini banyak yang tidak tahu. Para tetuanya pun kebanyakan sudah ‘tidak ada’ kata Pak Rahiman.
Kalau sobat elka tertarik membeli hewan peliharaan di sini, sob harus pintar pilih-pilih ya. Karena tidak semua hewan yang dijual di sini dalam kondisi sehat. Jangan terpengaruh sama pedagang yang bilang sehat – sehat saja. Satu lagi yang tak kalah penting, sob harus hati-hati ya, baik di pasar Mester atau pasar Burung, jangan sampai ketika sedang asik – asik menawar tiba – tiba dompet di saku berpindah tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar