Selasa, 28 Februari 2012


Pasar Mester - Jatinegara


Berawal dari sebuah project kantor yang tiap tahun selalu menggelar Annual Show, kali ini Saya kebagian tugas membantu di bagian Kostum. Karena kali ini mengusung cerita lama Sound Of Music, kami membutuhkan beberapa seragam Army untuk anak laki-laki. Hal ini lah akhirnya yang membuat Saya & seorang teman terdampar di pasar Mester – Jatinegara.
Seingat Saya yang sejak lahir dan besar di Jakarta baru 1 kali Saya berkunjung ke pasar ini, itupun di akibatkan Saya & beberapa teman mencari bahan-bahan kue kering untuk charity project kami beberapa tahun silam. Selebihnya Pasar Mester ini hanya Saya lewati saja.

Siang itu, luar biasa panasnya! Saya mulai menjajaki bersama seorang teman memasuki pasar Mester. Mobil sengaja Saya parkir disebuah Mall Grosir Jatinegara yang sudah tutup dan sengaja lahan parkirnya disewakan untuk para pengunjung pasar mester. Menaiki tangga penyebrangan sebetulnya Kita sudah disuguhi pedagang kaki lima yang menjual aneka ragam perabotan seperti gembok, obeng, kunci inggris atau perkakas lainnya, bahkan pedagang kaki kaos kaki.

Memasuki pintu gerbang pasar mester, Saya mulai terkejut mendapati lapak sebuah sepatu karet berlambang buaya. Iseng Saya tanya berapa harganya. Sepatu dan sandal tersebut dijual mulai harga 25.ribu rupiah saja, tapi bila Anda mau yang lebih terlihat mirip plek dengan yang asli tidak jauh juga dari pintu gerbang sebuah lapak yang menyediakan sepatu dan sendal merk yang sama dengan kualitas mirip 99% dengan yang asli. Mungkin bisa disebut KW Super. Harga sudah tentu lebih mahal dengan lapak sebelumnya. Biasa penjual mulai menawarkan harga 120ribu untuk sebuah sepatu sandal wanita. Lebih spektakulernya lagi si penjual akan membungkus sepatu yang kita beli dengan tas kantong yang sama bila kita membelinya di mall! Cccck...ccckkk Saya mulai berdecak kagum!


Semula pasar terbesar di area jakarta timur ini, sebenarnya hanya menjual aneka bahan pokok seperti sayur mayur , ternak hingga jahitan pakaian saja. Perubahan pesat terjadi selama 60 tahun terakhir, lapak-lapak mulai menjadi bangunan permanen. Bangunan permanen di Pasar Mester baru muncul sekitar tahun 1970. Bangunan itu kemudian direnovasi tahun 1989 setelah terbakar. Renovasi memakan waktu 1 tahun dan diresmikan pada tahun 1991. Kenapa namanya Mester? Sebetulnya dijaman Hindia Belanda, wilayah Jatinegara adalah merupakan kawasan hutan jati dan Cornelis Senen yang membuka kawasan hutan jati di daerah itu. Cornelis Senen juga berprofesi sebagai guru agama sehingga membuat dirinya mendapat gelar Meester! Sejak akhir abad 17, Meester Cornelis mulai menguasai tanah di kawasan hutan jati itu. Masyarakat pun menyebutnya dengan kawasan Meester Cornelis. “Orang awam sih dulu bilangnya mester tapi sebenarnya master. Ya sesuai dengan lidah orang Betawi biar gampang nyebutnya,” ujarnya.
Sedangkan, nama Jatinegara baru mulai digunakan pada awal pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1942. Kala itu Jepang berupaya keras menghilangkan nama-nama yang berbau Belanda. Lantaran kawasan itu bekas hutan jati yang lebat, dipilihlah nama Jatinegara menggantikan Meester Cornelis. Tapi, penobatan Jatinegara tidak serta merta menghilangkan nama Mester. Nama sang “tuan guru” tetap terukir indah di pasar Jatinegara.



Kembali ke masa kini, menjelajah masuk ke gedung utama, mata ini mulai disuguhi oleh pedagang busana muslim dan pakaian-pakaian. Penasaran, untuk lebih mengeksplore lebih lanjut, Saya mulai memasuki basement pasar mester. Keadaan dibawah cukup sesak, terlebih memang saat itu hari memang sudah siang. Kalo Anda mau mencari pernak pernik souvenir pernikahan ataupun mengisi goodie bag anak yang ulang tahun, area basement pasar mester tempat yang paling tepat. Bahkan di pasar mester ini juga menjual pernak pernik lainnya, mulai dari aksesoris wanita, wig, kosmetik, alat-alat jahit seperti renda, benang, kancing hingga pita semuanya ditawarkan dengan ratusan variasi.

Kembali naik ke lantai atas dan menyusuri sebuah eskalator yang sudah tidak berfungsi lagi kelantai dua, kita dapat menemukan puluhan kios yang menjual kaos dan pakaian anak-anak. Kios baju senam dan baju renang pun juga terdapat dilantai ini. Well, satu yang perlu diingat apabila Anda niat hunting di pasar mester adalah dengan memakai pakaian yang nyaman, dompet yang praktis dan aman hingga sandal flat yang tidak akan membuat anda letih. Selain itu, sediakan uang cash yang sesuai dengan daftar belanjaan Anda karena sulit menemukan ATM di seputaran pasar mester ini. Dan satu yang terpenting! Anda tetap harus dalam keadaan sadar dan waspada selama belanja, terlebih dalam keadaan sesak. Terkadang tangan usil pencopet juga beredar dipasar ini;))

Setelah puas dan wajah sedikit pliket akibat berebut oksigen di lantai basement, Saya segera berhambur keluar area gedung untuk mencari hawa sejuk. Kali ini, Saya niat untuk cuci mata di seputaran area gedung. Disebelah kiri area gedung pasar kita dapat menemukan deretan lapak yang menjual aneka perkakas, toples-toples makanan hingga oven dan aneka perabotan rumah tangga lainnya. Komplit! Dijamin, pasar mester juga surga untuk Anda yang punya hobbi masak karena semua tersedia disini mulai dari uleg-an tradisional hingga cetakan kue kembang goyang pun tersedia. Oiya,... yang terpenting tawar-menawar berlaku pada kegiatan membeli di pasar mester ini. Saran kecil lagi untuk Anda yang mau berbelanja disini, sediakan uang pecahan kecil karena jika anda belanja hanya habis 20ribu dan membayarnya dengan 50 ribu tidak jarang Anda disuruh membeli 2 item sekaligus. Dan bila pedagangnya tidak dalam kondisi mood yang baik (karena akibat tawar-menawar dengan kita sebelumnya) anda bisa di cap tidak sopan!.

Setelah tahu detail pasar Mester Jatinegara ini, rasanya tidak mengada-ada ataupun tidak salah bila Saya membayangkan Samantha Brown reporter Travel & Living Channel suatu hari kelak berada di pasar ini. Sudah tentu akan menjadi sebuah features dunia yang akan tergambar indah. Toh apa bedanya Pasar Mester ini dengan Pasar Seng di Mekkah dulu, Paddy’s Market di Sydney, Mustafa Center di Little India.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar